Senin, 25 Januari 2010

Nikmat Sedekah

Suatu hari Sayyidina Abdullah bin Syeikh Alaydrus duduk bercakap-cakap dengan para sahabatnya. Tiba-tiba beliau bertanya,”Adakah dermawan yang lebih murah hati daripada aku?” Dua kali pertanyaan ini diajukan,tetapi semua diam, tidak ada seorangpun yang bernai menjawab. Namun kemudian ada seorang salah seorang dari mereka berkata,”Ya sayyidi, ada yang lebih murah hati dari pada engkau.”

“Siapa Dia?”
“Dia tak begitu dikenal.”
“Kau harus memberitahukan siapa orang itu. Tak ada alasan untuk menyembunyikannya dariku.”

“Dia adalah seorang lemah bernama Ba Misbah, tinggal di kholif. Dia lebih murah hati daripada engkau.:

“Apa pekerjaan laki-laki ini?”

“Tukang celup pakaian.”

Setelah hari malam,Sayyid Abdullah menyamar sebagai wanita,lalu pergi ke rumah Ba Misbah di kholif. Sesampainya di sana, beliau mengetuk pitu rumah BaMisbah.

“Siapa?” Tanya Ba Misbah.

“Aku seorang wanita syarifah alawiyin. Aku butuh sesuatu darimu.”

Dengan perasaan senang,ia segera keluar menemui beliau.

‘Selamat datang wahai syarifah, segala puji syukur bagi Alah yang telah memilih kami untuk memenuhi kebutuhanmu,”katanya setelah membuka pintu.

Malam itu kebetulan adalah malam Idhul Adha.

“Ya Sayyidati, apakah kebutuhanmu,mintalah semua yang kau butuhkan. Hamba akan setia melayanimu dan patuh padamu,” kata Ba misbah.

“Aku adaah seorang syarifah yang miskin. Anakku banyak. Aku tak memiliki ayah, saudara maupun suami. Besok hari raya, tapi kami tak memiliki apa-apa.”

“Marhaba…Permintaan yang mudah bagi pelayanmu ini. Lalu apa yang kau inginkan?”

“Aku butuh makanan dan Beras.”
“Siap!”

Ia lalu memberikan dua karung makanan dan dua karung beras. Sayyid Abdullah tidak membawa barang itu pulang ke rumah, tetapi beliau pergi ke belakang rumah Ba Misbah, lalu meletakkan makanan dan beras tersebut di sana. Beliau menunggu hingga Ba Misbah naik ke tinggkat paling atas dari rumahnya. Setelah merasa yakin bahwa ba Misbah telah tidur, beliau kembali ke rumah Ba Misbah, mengetuk pintunya.

“Siapa?” Tanya Ba Misbah.

‘Hababahmu, syarifah yang tadi datang kesini. Aku masih ada kebutuhan yang lupa kusampaikan kepadamu.”

“Selamat datang ya sayyidati, puji syukur bagi Allah yang telah memilih aku untuk memenuhi kebutuhanmu. Ini sebuah nikmat yang agung.

Ia segera menemui sayyid Abdullah dengan perasaan senang dan bahagia.

“Ya sayyidati, mintalah apa yang kau perlukan, aku adalah abdimu, milikmu,”katanya setelah membuka pintu.

“Aku lupa, kami berempat di rumah tidak memiliki pakaian. Aku butuh pakaian.”

“Siap”.

Ia lalu mengambilkan 4 pakaian yang telah di celup dan bergambar. Pakaian-pakaian itu berkualitas tinggi, dan pakaian terbaik bagi wanita zaman itu adalah yang bergambar. Sayyid Abdullah membawa pakaian tersebut ke belakang rumah Ba Misbah dan meletakkannya di tempat yang sama. Beliau mulai takjub dengan kebaikan akhlak Ba Misbah. Sebab meski diganggu di malam hari, ia tidak merasa susah dan jengkel.

Setelah merasa yakin bahwa Ba Misbah telah tidur pulas, Sayyid Abdullah kembali ke rumah Ba Misbah untuk yang ke tiga kalinya. Beliau mengetuk pintu rumahnya. Ba Misbah segera bangun dan bertanya, “Siapakah yang di luar?”

‘Hababahmu, syarifah yang tadi datang ke sini. Aku lupa masih ada satu kebutuhan lagi yang belum kusamaikan kepadamu.”

“Selamat datang, segala puji bagi Allah yang telah memilihku untuk memenuhi kebutuhanmu.”

Ba Misbah segera keluar menemui Sayyid Abdullah dengan perasaan senang dan bahagia dari sebelumnya. Ia membukakan pintu seakan-akan sayyid Abdullah baru pertama kali datang ke rumahnya.

“Ya Sayyidati….,wahai penyejuk hatiku…, mintalah apa yang engkau butuhkan, pelayanmu ini akan selalu taat dan patuh. Apa gerangan kebutuhanmu sekarang?”

“Aku butuh minyak zaitun, minyak samin, korma dan asidah.”

“Marhaba….Setiap kali kau butuh sesuatu mintalah kepadaku.”

Ba Misbah segera mengambilkan satu kantong minyak zaitun, satu kantong minyak samin, satu wadah korma dan asidah.

“Ya sayyidati, ambillah barang-barang ini. Maafkan aku telah menyusahkanmu lantaran engkau lupa menyebutkan semua kebutuhanmu. Jika masih ada yang terlupa, kembalilah kemari. Kedatanganmu ke rumahku ini merupakan nikmat terbesar yang di berikan Allah padaku.”

Sayyid Abdullah mengambil semua pemberiannya, lalu pergi ke belakang rumah Ba Misbah. Sayyid Abdullah takjub melihat kebaikan akhlak Ba Misbah ; mukanya tidak berubah.

Tidak ada komentar: